| suporter |
|
|
|
| Written by Redaksi PersebayaFC.com | ||||
| Sunday, 31 January 2010 18:25 | ||||
Persebaya Bentuk Wadah Resmi SuporterPrihatin dengan meninggalnya pendukung Persebaya pasca partai away melawan Persib Bandung, manajemen akan membentuk wadah resmi suporter. Bahkan statusnya akan didaftarkan ke PSSI sebelum laga putaran kedua dimulai. Pembentukan suporter resmi itu untuk melindungi Persebaya dari akibat hukum dari sesuatu yg mestinya tidak menjadi tanggung jawab manajemen, juga tetap menjaga warna dan ciri masing kelompok yang telah ada selama ini. Apalagi, Bonek –julukan suporter Persebaya- selama ini bukanlah suporter yang dapat dikoordinir dengan mudah. Selain berbentuk massa cair, keberadaan pendukung Green Force di Indonesia tidak hanya terpusat di Surabaya. Bahkan nyaris diseluruh kota di pulau Jawa, ada Bonek. Bahkan bisa disebut, pendukung tim yang identik dengan warna hijau ini juga menjadi salah satu identitas asli Jawa Timur. Oleh sebab itu, anggapan dan komentar sejumlah orang yang menginginkan agar bonek dibubarkan amat sangat tidak mungkin. Boleh jadi membubarkan bonek sama saja mengapus jadi diri 'wani dan nekat' yang selama ini sangat erat hubungannya dengan Jatim. “Bonek tidak bisa dihapus, dibinasakan dan dimatikan. Karena bonek adalah perilaku suporter yang loyal dalam mendukung Persebaya. Semangat yang tiada henti untuk mendukung Persebaya. Bonek adalah semangat yang sudah lahir dan menjadi pencetus peristiwa 10 November 1945,” terang Ketua Umum Persebaya, Saleh Ismail Mukadar dalam sarasehan suporter Persebaya, Minggu (31/1) di Rumah Makan Hallo Surabaya yqang dihadiri tak kurang dari 500 perwakilan suporter. Saleh yang ditemui dalam diskusi dengan tokok politik Surabaya dan insan bonek, Minggu (31/1/2010) menambahkan, keinginan sejumlah orang agar bonek dibubarkan adalah hal yang mustahil. Selain itu, ia juga mengkritik stigma negatif yang selama ini selalu dikaitkan dengan Persebaya dan bonek. “Lihat saja, nyanyian rasis tak hanya terjadi di Tambaksari saat Persebaya main. Kemarin waktu kita di Persija, mereka juga menghujat kita. Tapi kenapa PSSI tidak ada sanksi. Tak salah kalau kita sebut bonek itu selebritis,” selorohnya. Ia menambahkan, selama ini apa yang dilakukan Komdis PSSI terkesan tebang pilih dan cenderung merugikan tim Jatim. Sejauh ini, selain Persebaya, Persela dan Arema juga menjadi salah satu korban Komdis. Apalagi, lanjut Saleh, Bajul Ijo mendapat hukuman dobel hanya dari satu kasus. “Suporter tidak bisa dipasung saja. Saya sebagaianggota DPRD Surabaya akan ikut ke Jakarta untuk mendesak agar hukuman itu tidak diberlakukan. PSSI itu bapaknya sepakbola, seharusnya mereka berikan pembinaan. Selain itu, harus ada prosedur. Jadi jangan langsung dihukum,” timpal Ketua DPRD Surabaya, Wisnu Wardhana yang juga hadir pada acara itu. Dalam acara itu, Tim Pencari Fakta (TPF) bentukan Persebaya juga sempat menunjukkan rekaman audio visual terkait peristiwa Solo lalu. Hujatan yang menyebut Bonek sebagai pihak pertama yang melakukan pelemparan tidak tergambar. Justru, ribuan Bonek yang menyaksikan laga Persib vs Persebaya jadi korban lemparan batu. Baik saat berangkat maupun pulang dari Bandung. TPF sendiri yang diketuai pengacara muda M Sholeh sempat menyentil Bonek yang dinilai juga punya andil dalam kerusuhan itu. Sebab, kerusuhan itu tidak akan terjadi kalau Bonek tidak menyaksikan partai tersebut. Apalagi, hampir semua suporter yang hadir siang tadi mengetahui sanksi larangan menyaksikan laga away yang diberikan oleh PSSI. “Ada unsur historis menyikapi persoalan itu. Sebelumnya, Bonek memang melakukan tindakan tidak terpuji tapi itu terjadi tahun-tahun lalu jika melewati Solo. Tapi dalam kasus ini, kami menilai mereka yang jadi korban. Apalagi faktanya, pelemparan itu hanya terjadi sebelum masuk dan melewati kota Solo. Setelah itu, perjalanan mereka aman-aman saja,” beber Sholeh. Sementara soal keberangkatan Bonek ke Bandung, Sholeh juga menyebut faktor historis uporter kedua tim yang memang tidak ada gesekan sebagai penarik. Meski pun dilarang, Sholeh menyebut Bonek tetap datang karena disambut tangan terbuka oleh pendukung Persib. “Jadi harus dibedakan oleh PSSI. Kasus Solo kemarin bukan mutlak kesalahan suporter Persebaya. Kami berharap, sanksi berat sampai 2014 tidak boleh mendampingi tim di laga away ditinjau ulang,” pungkasnya. Nad/pfc
|
||||